Jumat, 07 Desember 2012

Ceritakan padaku , tentang Ayah


Anita, begitulah kerap kali orang memanggilku. Aku tinggal bersama Mama, Paman, Nenek serta Kakek di sebuah perkampungan yang cukup ramai dan sejuk. Ayahku telah pergi meninggalkan kami pada saat diriku masih dalam kandungan . Meski tak ada dekapan dari sang Ayah, namun  aku tumbuh menjadi gadis yang dicinta dan dikasihi banyak orang. Tak ada sedikitpun kekurangan yang ku rasakan dalam hal materi. Maklum saja sebab Kakek merupakan salah seorang yang terkaya dikampung kami.

Akan tetapi, aku sering kali merasa ada yang kurang dalam hidupku. Terkadang rasa itu hadir dalam sela-sela senyuman, bahkan air mata pun tanpa aku sadari terjatuh. Entahlah! Mungkin sesuatu yang dimiliki oleh sebagian banyak orang, namun tidak denganku.

“Ayah!” batinku, lagi-lagi air mata meleleh.

“Ah! Sudahlah, mungkin tak ada gunanya juga aku tangisi,” Batinku lagi,

Aku segera melangkahkan kaki menuju teras rumah, mungkin dengan melihat-lihat pemandangan yang nampak begitu asri dapat menghilangkan penat.

“Anita, sedang apa kau disini?” tegur Paman tiba-tiba setelah beberapa menit aku berdiam diri di teras,

“Oh, Paman. Paman mengagetkanku saja. Anita hanya memandangi kampung kita yang indah ini, sudah lama aku tak begitu memperhatikannya. Hanya lewat begitu saja, ternyata semakin sejuk dipandang mata,” Ucapku sembari tersenyum,

“Yah, begitulah Nit. Kau itu terlalu sibuk dengan tugas-tugas sekolahmu, padahal kau baru SMP. Umurmu  masih sangat muda, apakah kau tak takut masa mudamu itu terenggut dengan keseriusanmu pada pelajaran? Anak-anak seusiamu masih bermain-main disawah, bermain layangan dan sebagainya, sedangkan kau?” terang Paman,

“Benar juga kata Paman, mungkin sebaiknya aku tak begitu serius saat ini, aku harus meluangkan waktuku untuk bermain bersama kawan-kawan diluar sana. Anita juga takut loh, nanti malah stress, hehe.”

“Nah begitu ‘kan lebih baik,” ucapnya tersenyum.

“Oh iya, Paman?” Seketika aku memikirkan sesuatu yang mungkin dapat aku cari kebenarannya dari Paman, semoga saja!

“Iya? Ada apa, Nit?”

“Apakah Paman tahu  perihal kematian Ayah? Dan bagaimana rupa Ayah itu? Pasti Ia sangat gagah yah, Paman? Sungguh, tak seorangpun yang pernah menceritakan tentang Ayah kepadaku, gambar Ayahpun tak ada,”

Sesaat Paman terdiam, dan…

“Paman belum siap menceritakannya saat ini.” Ujarnya sambil berlalalu meninggalkanku.

Ada apa sebenarnya? mengapa tak ada seuntai kata pun tentang Ayah yang mampu mereka kisahkan kepadaku? Sebenarnya aku ini anak siapa?

“Astaghfirullah,” rintihku dalam hati.

Adzan maghrib berkumandang, segera aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Dalam do’a ku pinta kepada Sang Maha Adil,

“Ya Allah, berikan keadilan-Mu dalam kebimbanganku tentang segala rahasia yang mereka sembunyikan dariku.”

“Anita? Makan dulu, Nak.” Sahut Mama dari luar kamar,

“Iya, Ma. Sebentar lagi Anita keluar,”

Ditikar tempat kami menyantap hidangan buatan Mama dan Nenek, kucoba mengungkit kembali rasa penasaran yang menyeruak dalam dadaku, ini benar-benar menusuk jika tak dapat aku ketahui yang sesungguhnya.

“Ma, sebenarnya Ayah itu...”

“Anita! Ayahmu sudah tiada, Mama minta jangan kau ungkit-ungkit lagi masalah Ayahmu.” Tegas Mama memotong kalimatku yang belum sempurna,

“Tapi, Ma…”

“Anita!” bentak Paman,

Kutatap tajam mata Paman, kurasakan pandanganku berkaca-kaca, sepertinya aku akan segera meneteskan air mata luapan emosi, kemarahanku memuncak dan segera kutinggalkan mereka.

Emosiku benar-benar berada ditingkat paling atas, seolah-olah akan segera meledak. Segera kuucap Istighfar, dan kurebahkan tubuhku di atas kasur. Ah! Benar-benar lelah rasanya jika memendam emosi.

Pagi harinya…
Ku dengar lantunan suara indah sang ayam tetangga, sungguh inilah khas desaku yang sangat menentramkan hati. Ku ayunkan langkahku menuju dapur untuk meneguk segelas air, tak sengaja kulihat Kakek dan Nenek sedang sibuk kesana kemari tanpa adanya kejelasan yang terlihat dari tingkah mereka.

“Kakek dan Nenek sedang apa? Kelihatannya sedang sibuk?” tegurku,

“Kami sedang mencari baju kenangan Nenek waktu masih muda dulu,” jawab Kakek tersenyum,

“Perlu Anita bantu, Kek?” tawarku,

“Oh, tentu saja, sayang. Kami memang sangat membutuhkan bantuan, mata kami ‘kan sudah rabun, beda dengan mata Anita yang masih segar,”

“Mama dan Paman kemana? Kenapa mereka tak ikut membantu?”

“Kebetulan tadi mereka keluar untuk membeli kebutuhan dapur yang sudah habis, Nak.”

“Baiklah. Kakek dan Nenek sudah mencari di lemari yang ada diruang belakang?”

“Belum, Nak. Kau saja yang mencari dibelakang,”

“Iya, Nek.” Ujarku berlalu,

Kubuka lemari yang berdiri diruang belakang, kulihat banyak barang-barang usang didalam. Lemari ini hampir tak mampu memuat semua barang yang ditampungnya. Bagaimana tidak? Lemari bukannya dijadikan sebagai tempat pakaian yang bersih, malah dijadikan sebagai gudang.
Ku keluarkan satu persatu isi lemari, kutelusuri sudut-sudutnya mencari baju milik Nenek. Kuraih berbagai macam barang bekas, mulai dari boneka, kacamata, kotak nasi, kemeja kotak-kotak, panci, tas, dan…
Oh! Tunggu dulu! Kita remind sebentar!
Tadi, kemeja kotak-kotak? Kemeja pria? Milik siapa? Apa milik Paman? Ataukah milik Kakek? Ah tidak mungkin. Lalu? Sebaiknya kusimpan, siapa tahu ini adalah milik Ayah.

Setelah bagian lemari yang sebelah kanan selesai, kembali kulanjutkan pencarianku di bagian kiri. Satu per satu barang ku keluarkan, masih tak kutemukan juga baju milik Nenek. Tak satupun ada baju yang bermotif kembang-kembang nuansa tahun 50-an. Sepertinya memang tak ada disini, sebaiknya aku coba mencari dilain tempat.
Kurapikan kembali barang yang telah ku bongkar tadi. Namun tunggu dulu, aku menemukan sesuatu yang terbungkus rapih dengan sebuah kain bercorak garis-garis merah. Kubuka, dan ternyata…
“DIARY!”
Diary berwarna merah kecokelat-cokelatan, entah ini diary siapa. Karena rasa penasaran yang menggejolak, kuputuskan untuk membaca isinya,


Jum’at, 14 juni 1996
“Hari ini, usia janinku genap 7 bulan. Seharunya aku berbahagia menyambut kehadiran calon bayiku yang Insya Allah sudah tak lama lagi aku akan bertemu dengannya. Namun, kesedihan lah yang aku tanggung. Mas Wahyu, mas yang sangat aku cinta, Ayah dari calon bayiku, pergi meninggalkanku begitu saja. Dua hari yang lalu, memang Ia telah meminta izin padaku untuk keluar kota mencari pekerjaan, dengan alasan Ia malu jika tak memiliki pekerjaan tetap dalam menghidupi keluarganya. Memang benar, Ia bergantung padaku. Akulah yang bekerja, bukan dia, namun aku tak pernah diberatkan akan hal itu sedikitpun. Itulah alasannya mengapa Ia pergi, aku telah menentang keras keinginannya itu, akan tetapi Ia tetap kekeh pada keputusannya. Aku  sungguh  sakit  setelah  kepergiannya  itu,  ya Allah aku merindukannya, lindungilah  Ia dimanapun Ia berada.”

Air mataku mengalir , aku yakin bahwa diary ini adalah milik Mama. Sebab jika bukan, lalu siapa lagi? Kemudian aku buka lembaran yang selanjutnya,

Senin, 12 Agustus 1996
“Hari ini bayi mungil yang merupakan buah cintaku dengan Mas Wahyu telah melihat dunia, seorang bayi perempuan yang kuberi nama Anita Wahyuni, gabungan antara namaku dan nama Ayahnya. Sungguh, bayi yang lucu dan cantik. Alhamdulillah, dengan kehadiran bayi ini aku dapat mengobati sedikit kerinduanku pada Mas Wahyu.”

Benar! Diary ini adalah milik Mama, aku yakin itu. Air mataku mengayak sungai, hatiku tercabik, perasaan bercampur menjadi satu ikatan, aku tersentak dari alpa, teryata inilah rahasia yang selama ini keluargaku sembunyikan dariku.
Aku tak tahu sekarang Ayah dimana, Ia pergi mencari pekerjaan namun hingga berpuluh tahun lamanya. Sekejam itukah Ayahku meninggalkan Mama dan aku? Apakah Ia tak ingin melihatku?

Kututup kembali diary itu, segera kulangkahkan kaki ku ke ruang depan. Kuletakkan diary itu di atas meja, sementara kunanti kedatangan Mama dalam kamarku.

“Assalamu’alaykum,” kudengar Mama mengucap salam dari luar,
“Wa’alaykumussalam,” kujawab, namun tak kukeraskan suaraku.

Kudengar pintu terbuka perlahan, aku yakin Mama telah melihat diary itu. Kuputuskan untuk menemui Mama sekarang juga.

“Mama,” tegurku kepada Mama, kulihat wajah Mama putih pucat,

“Oh, Anita. Kau mengagetkan Mama.”

“Mama, Mama menyembunyikan apa?”

“Maksud Anita apa? Tidak, Mama tidak menyembunyikan apa-apa,” jelasnya sambil terbata-bata,

“Diary yang sedang Mama sembunyikan, itu milik Mama, ‘kan?”

“Mama semakin tak mengerti maksudmu. Sudahlah, Mama lelah. Butuh istirahat,” Mama ingin meninggalkanku, namun segera ku tahan,

“Ma! Untuk apa lagi Mama menyembunyikan ini semua? Hah! Untuk apa lagi, Ma? Apa Mama senang melihat Anita menyimpan tanda Tanya terus dalam hati? Bagaimana jika Anita meninggal esok atau lusa sedang Mama tak juga menceritakan yang sesungguhnya?” pintaku sembari merintih, aku tersungkur dan menumpahkan segala luapan emosi kedalam tetesan air mata.

Mama terdiam sesaat menahan air matanya, mungkin sudah tak sanggup sehingga akhirnya Ia pun merangkulku, Ia menangis, menangis dan menangis.

“Nak, maafkan Mama. Selama ini Mama dan yang lainnya tidak memberitahukan rahasia ini hanya karena tak ingin kau ikut membenci Ayahmu seperti Pamanmu. Mama yakin, kau pasti telah membaca isi diary itu, apapun yang kau baca, itulah alasan Ayah meninggalkan kita, Nak.” Terang Mama dengan suara parau,

“Lalu sekarang Ayah dimana? Mengapa Ia tak menemui kita, Ma?”

“Anita, mungkin memang sudah waktunya kau mengetahui semuanya. Sesungguhnya Ayahmu telah menikah denga wanita lain. Lihatlah bagaimana Pamanmu membenci Ayah, itu karena Ia masih sangat murka terhadap perlakuan Ayah yang benar-benar sudah diluar kewajaran. Ia menikah dengan seorang wanita kaya, anak dari pemilik perusahaan dimana Ayahmu bekerja.”

“Jadi, Ayah rela mengorbankan kita, demi harta dan jabatan itu?”

“Begitulah, Nak. Maka dari itu Paman tak dapat memaafkannya,”

“Mama memaafkan Ayah, ‘kan?”

“Iya, Nak. Cinta Mama terhadap Ayahmu tak dapat dikalahkan oleh rasa benci, bagaimanapun itu. Mama hanya bersabar dan berharap suatu saat nanti Ia akan kembali bersama kita. Mama juga berharap semoga kau tak pernah membenci Ayahmu, Nak.”

“Demi Allah, Ma. Sedikitpun tak ada rasa benci untuk Ayah, hanya ada sedikit rasa kecewa. Hanya sedikit, Ma.”

“Mama mengerti, Nak. Wajar saja jika begitu, berdo’alah semoga Ayah segera datang menemui kita,”

“Aamiin,” aku tersenyum,

Keesokan harinya, terdengar suara ketukan dibalik pintu rumahku. Paman membuka pintu, dan ternyata seorang tukang pos.

“Dari siapa?” Tanya Mama kepada Paman,

“Sebentar, aku belum selesai membaca,” jawabnya,

“WAHYU,” lanjutnya kemudian,

“Apa?” aku dan yang lainnya terkaget, segera kuraih kertas yang kemudian diletakkan Paman di atas meja, kubaca surat itu dengan suara lantang,

Assalamu’alaykum
Teruntuk keluarga besarku di rumah, khususnya untuk istri dan anakku.
Maafkan aku, 14 tahun lamanya aku meninggalkan kalian, tak pernah kusampaikan kabar tentangku kecuali kabar terakhir yang menyakitkan beberapa tahun yang lalu. Maafkan aku tak menyampaikan alasanku menikahi wanita itu. Sesungguhnya, aku menikahinya bukan karena cinta apalagi jika hanya sekedar mengejar sebuah jabatan. Rani, pasti kau tahu, bukan diriku jika harus mengorbankan harga diri hanya untuk sebuah jabatan. Aku menikahinya sebab Ia mempunyai penyakit ganas yang akan segera merenggut nyawanya. Ayahnya, yang tidak lain adalah atasanku, memintaku untuk menikahi anakanya disisa terakhir hidupnya. Aku tak mempunyai pilihan yang lain, terpaksa harus kuturuti permintaan itu. Usia pernikahanku dengannya hanya berjalan dua tahun, setelah itu Ia meninggal dunia. Setahun yang lalu, aku berencana pulang menemui kalian semua, akan tetapi tiba-tiba aku ditugaskan untuk menjalankan proyek diluar negeri. Lagi-lagi niat itu harus tertunda, kerinduanku harus kutahan lagi dan lagi. Aku sungguh merindukan kalian semua. Ayah mertua, Ibu mertua, iparku, istri yang tercinta, dan anakku semata wayang yang sedikitpun tak pernah aku melihatnya.
Insya Allah satu minggu yang akan datang, aku akan pulang menemui kalian. Dan berjanji tak akan meninggalkan kalian lagi, pekerjaan yang telah kudapatkan telah kulepaskan sekarang. Aku lelah bekerja dikota tanpa kalian, maka dari itu aku memilih kalian. Aku akan membawa modal untuk membangun sebuah usaha kecil, agar aku tak menganggur lagi seperti dulu.
Mungkin begini saja yang dapat kusampaikan, aku harap kalian mengerti dan dapat menerima aku kembali.
Terima kasih,
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Suasana menjadi hening, kurasakan suasana pilu bercampur bahagia menyelimuti ruangan ini. Benar-benar tak dapat disangka-sangka, sosok seorang Ayah akan segera terlihat didepan mataku.
Mama, yang sedari tadi hanya terdiam, akhirnya dapat menggores wajahnya dengan senyuman. Dan kuharap, kabar ini bukanlah sebuah mimpi belaka.
***
Hari ini, Ayah datang untuk menepati janjinya, kupersiapkan segalanya agar kedatangan Ayah menjadi hal yang begitu berkesan. Untuk kali pertamanya aku akan bertemu  dengan Ayah yang selama ini aku nantikan kehadirannya disisiku.

Setelah beberapa jam menunggu, terdengar suara mobil yang berhenti tepat didepan halaman rumahku. Jantungku mulai berdetak kencang, kucoba mengintip dibalik jendela kamarku. Kulihat Mama, Paman, Kakek juga Nenek menyambut seorang lelaki yang berbadan tegap, putih untuk ukurang warna kulit lelaki, Ia memakai kemeja kotak-kotak berwarna cokelat pekat, serta sepadan dengan celana yang Ia kenakan. Sekilas kulihat wajahnya, Ia rupawan dan bersahaja. Ya Allah, itukah Ayahku?

“Anita?” sahut Mama dari luar kamarku,

“Iya, Ma?” jawabku,

“Keluarlah sekarang, Ayahmu mencarimu, Nak.”

Perlahan ku langkahkan kaki ku dengan perasaan bahagia bercampur haru. Kutatap wajah lelaki itu, sungguh rupawan. Tiba-tiba Ia memelukku, memelukku begitu erat.

“Nak, ini adalah Ayahmu yang tidak tahu  diri meninggalkanmu begitu lama,” bisiknya

Aku memeluknya, kupeluk Ia dengan erat, seolah tak ingin kulepaskan lagi.
Kurasakan pundakku basah, basah karena air mata Ayah yang mengalir tak tertahankan.

“Ayah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Nak.” Lanjutnya,

“Iya, Ayah. Anita menyayangi Ayah, jangan tinggalkan kami lagi.”

“Ayah berjanji kepadamu. Ayah juga sangat menyayangi Anita.”

Disinilah awal kehidupanku yang baru, semua berbeda dengan hadirnya sang Ayah. Kami hidup dengan bahagia, usaha yang dibangun Ayah semakin melonjak sukses. Mama ikut membantu Ayah dalam usahanya, sedangkan Paman juga telah menemukan tambatan hatinya dan pada akhirnya mereka menikah. Baju yang Nenek cari pun akhirnya kami temukan.
Alhamdulillah, semua berakhir dengan kebahagiaan.         

 makasih buat temanku yang bernama Risma Arida yang telah  membantu saya menyelesaikan tugas praktek ini :)
 Thanks sobat :D
                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar