Anita, begitulah kerap kali orang
memanggilku. Aku tinggal bersama Mama, Paman, Nenek serta Kakek di sebuah
perkampungan yang cukup ramai dan sejuk. Ayahku telah pergi meninggalkan kami
pada saat diriku masih dalam kandungan . Meski tak ada dekapan dari sang Ayah,
namun aku tumbuh menjadi gadis yang
dicinta dan dikasihi banyak orang. Tak ada sedikitpun kekurangan yang ku
rasakan dalam hal materi. Maklum saja sebab Kakek merupakan salah seorang yang
terkaya dikampung kami.
Akan tetapi, aku sering kali
merasa ada yang kurang dalam hidupku. Terkadang rasa itu hadir dalam sela-sela
senyuman, bahkan air mata pun tanpa aku sadari terjatuh. Entahlah! Mungkin
sesuatu yang dimiliki oleh sebagian banyak orang, namun tidak denganku.
“Ayah!” batinku, lagi-lagi air
mata meleleh.
“Ah! Sudahlah, mungkin tak ada
gunanya juga aku tangisi,” Batinku lagi,
Aku segera melangkahkan kaki
menuju teras rumah, mungkin dengan melihat-lihat pemandangan yang nampak begitu
asri dapat menghilangkan penat.
“Anita, sedang apa kau disini?”
tegur Paman tiba-tiba setelah beberapa menit aku berdiam diri di teras,
“Oh, Paman. Paman mengagetkanku
saja. Anita hanya memandangi kampung kita yang indah ini, sudah lama aku tak
begitu memperhatikannya. Hanya lewat begitu saja, ternyata semakin sejuk
dipandang mata,” Ucapku sembari tersenyum,
“Yah, begitulah Nit. Kau itu
terlalu sibuk dengan tugas-tugas sekolahmu, padahal kau baru SMP. Umurmu masih sangat muda, apakah kau tak takut masa
mudamu itu terenggut dengan keseriusanmu pada pelajaran? Anak-anak seusiamu
masih bermain-main disawah, bermain layangan dan sebagainya, sedangkan kau?”
terang Paman,
“Benar juga kata Paman, mungkin
sebaiknya aku tak begitu serius saat ini, aku harus meluangkan waktuku untuk
bermain bersama kawan-kawan diluar sana. Anita juga takut loh, nanti malah
stress, hehe.”
“Nah begitu ‘kan lebih baik,”
ucapnya tersenyum.
“Oh iya, Paman?” Seketika aku memikirkan
sesuatu yang mungkin dapat aku cari kebenarannya dari Paman, semoga saja!
“Iya? Ada apa, Nit?”
“Apakah Paman tahu perihal kematian Ayah? Dan bagaimana rupa Ayah
itu? Pasti Ia sangat gagah yah, Paman? Sungguh, tak seorangpun yang pernah
menceritakan tentang Ayah kepadaku, gambar Ayahpun tak ada,”
Sesaat Paman terdiam, dan…
“Paman belum siap menceritakannya
saat ini.” Ujarnya sambil berlalalu meninggalkanku.
Ada apa sebenarnya? mengapa tak
ada seuntai kata pun tentang Ayah yang mampu mereka kisahkan kepadaku?
Sebenarnya aku ini anak siapa?
“Astaghfirullah,” rintihku dalam
hati.
Adzan maghrib berkumandang,
segera aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Dalam do’a ku pinta
kepada Sang Maha Adil,
“Ya Allah, berikan keadilan-Mu
dalam kebimbanganku tentang segala rahasia yang mereka sembunyikan dariku.”
“Anita? Makan dulu, Nak.” Sahut
Mama dari luar kamar,
“Iya, Ma. Sebentar lagi Anita
keluar,”
Ditikar tempat kami menyantap
hidangan buatan Mama dan Nenek, kucoba mengungkit kembali rasa penasaran yang
menyeruak dalam dadaku, ini benar-benar menusuk jika tak dapat aku ketahui yang
sesungguhnya.
“Ma, sebenarnya Ayah itu...”
“Anita! Ayahmu sudah tiada, Mama
minta jangan kau ungkit-ungkit lagi masalah Ayahmu.” Tegas Mama memotong
kalimatku yang belum sempurna,
“Tapi, Ma…”
“Anita!” bentak Paman,
Kutatap tajam mata Paman,
kurasakan pandanganku berkaca-kaca, sepertinya aku akan segera meneteskan air
mata luapan emosi, kemarahanku memuncak dan segera kutinggalkan mereka.
Emosiku benar-benar berada
ditingkat paling atas, seolah-olah akan segera meledak. Segera kuucap
Istighfar, dan kurebahkan tubuhku di atas kasur. Ah! Benar-benar lelah rasanya
jika memendam emosi.
Pagi harinya…
Ku dengar lantunan suara indah
sang ayam tetangga, sungguh inilah khas desaku yang sangat menentramkan hati.
Ku ayunkan langkahku menuju dapur untuk meneguk segelas air, tak sengaja
kulihat Kakek dan Nenek sedang sibuk kesana kemari tanpa adanya kejelasan yang
terlihat dari tingkah mereka.
“Kakek dan Nenek sedang apa?
Kelihatannya sedang sibuk?” tegurku,
“Kami sedang mencari baju
kenangan Nenek waktu masih muda dulu,” jawab Kakek tersenyum,
“Perlu Anita bantu, Kek?”
tawarku,
“Oh, tentu saja, sayang. Kami
memang sangat membutuhkan bantuan, mata kami ‘kan sudah rabun, beda dengan mata
Anita yang masih segar,”
“Mama dan Paman kemana? Kenapa
mereka tak ikut membantu?”
“Kebetulan tadi mereka keluar
untuk membeli kebutuhan dapur yang sudah habis, Nak.”
“Baiklah. Kakek dan Nenek sudah
mencari di lemari yang ada diruang belakang?”
“Belum, Nak. Kau saja yang
mencari dibelakang,”
“Iya, Nek.” Ujarku berlalu,
Kubuka lemari yang berdiri
diruang belakang, kulihat banyak barang-barang usang didalam. Lemari ini hampir
tak mampu memuat semua barang yang ditampungnya. Bagaimana tidak? Lemari
bukannya dijadikan sebagai tempat pakaian yang bersih, malah dijadikan sebagai
gudang.
Ku keluarkan satu persatu isi
lemari, kutelusuri sudut-sudutnya mencari baju milik Nenek. Kuraih berbagai
macam barang bekas, mulai dari boneka, kacamata, kotak nasi, kemeja
kotak-kotak, panci, tas, dan…
Oh! Tunggu dulu! Kita remind
sebentar!
Tadi, kemeja kotak-kotak? Kemeja
pria? Milik siapa? Apa milik Paman? Ataukah milik Kakek? Ah tidak mungkin.
Lalu? Sebaiknya kusimpan, siapa tahu ini adalah milik Ayah.
Setelah bagian lemari yang
sebelah kanan selesai, kembali kulanjutkan pencarianku di bagian kiri. Satu per
satu barang ku keluarkan, masih tak kutemukan juga baju milik Nenek. Tak
satupun ada baju yang bermotif kembang-kembang nuansa tahun 50-an. Sepertinya
memang tak ada disini, sebaiknya aku coba mencari dilain tempat.
Kurapikan kembali barang yang
telah ku bongkar tadi. Namun tunggu dulu, aku menemukan sesuatu yang terbungkus
rapih dengan sebuah kain bercorak garis-garis merah. Kubuka, dan ternyata…
“DIARY!”
Diary berwarna merah
kecokelat-cokelatan, entah ini diary siapa. Karena rasa penasaran yang
menggejolak, kuputuskan untuk membaca isinya,
Jum’at,
14 juni 1996
“Hari ini,
usia janinku genap 7 bulan. Seharunya aku berbahagia menyambut kehadiran calon
bayiku yang Insya Allah sudah tak lama lagi aku akan bertemu dengannya. Namun,
kesedihan lah yang aku tanggung. Mas Wahyu, mas yang sangat aku cinta, Ayah
dari calon bayiku, pergi meninggalkanku begitu saja. Dua hari yang lalu, memang
Ia telah meminta izin padaku untuk keluar kota mencari pekerjaan, dengan alasan
Ia malu jika tak memiliki pekerjaan tetap dalam menghidupi keluarganya. Memang
benar, Ia bergantung padaku. Akulah yang bekerja, bukan dia, namun aku tak
pernah diberatkan akan hal itu sedikitpun. Itulah alasannya mengapa Ia pergi,
aku telah menentang keras keinginannya itu, akan tetapi Ia tetap kekeh pada
keputusannya. Aku sungguh sakit setelah
kepergiannya itu, ya
Allah aku merindukannya, lindungilah Ia
dimanapun Ia berada.”
Air mataku mengalir , aku yakin
bahwa diary ini adalah milik Mama. Sebab jika bukan, lalu siapa lagi? Kemudian
aku buka lembaran yang selanjutnya,
Senin,
12 Agustus 1996
“Hari ini
bayi mungil yang merupakan buah cintaku dengan Mas Wahyu telah melihat dunia,
seorang bayi perempuan yang kuberi nama Anita Wahyuni, gabungan antara namaku
dan nama Ayahnya. Sungguh, bayi yang lucu dan cantik. Alhamdulillah, dengan
kehadiran bayi ini aku dapat mengobati sedikit kerinduanku pada Mas Wahyu.”
Benar! Diary ini adalah milik
Mama, aku yakin itu. Air mataku mengayak sungai, hatiku tercabik, perasaan
bercampur menjadi satu ikatan, aku tersentak dari alpa, teryata inilah rahasia
yang selama ini keluargaku sembunyikan dariku.
Aku tak tahu sekarang Ayah
dimana, Ia pergi mencari pekerjaan namun hingga berpuluh tahun lamanya. Sekejam
itukah Ayahku meninggalkan Mama dan aku? Apakah Ia tak ingin melihatku?
Kututup kembali diary itu, segera
kulangkahkan kaki ku ke ruang depan. Kuletakkan diary itu di atas meja,
sementara kunanti kedatangan Mama dalam kamarku.
“Assalamu’alaykum,” kudengar Mama
mengucap salam dari luar,
“Wa’alaykumussalam,” kujawab,
namun tak kukeraskan suaraku.
Kudengar pintu terbuka perlahan,
aku yakin Mama telah melihat diary itu. Kuputuskan untuk menemui Mama sekarang
juga.
“Mama,” tegurku kepada Mama,
kulihat wajah Mama putih pucat,
“Oh, Anita. Kau mengagetkan
Mama.”
“Mama, Mama menyembunyikan apa?”
“Maksud Anita apa? Tidak, Mama
tidak menyembunyikan apa-apa,” jelasnya sambil terbata-bata,
“Diary yang sedang Mama sembunyikan,
itu milik Mama, ‘kan?”
“Mama semakin tak mengerti
maksudmu. Sudahlah, Mama lelah. Butuh istirahat,” Mama ingin meninggalkanku,
namun segera ku tahan,
“Ma! Untuk apa lagi Mama
menyembunyikan ini semua? Hah! Untuk apa lagi, Ma? Apa Mama senang melihat
Anita menyimpan tanda Tanya terus dalam hati? Bagaimana jika Anita meninggal
esok atau lusa sedang Mama tak juga menceritakan yang sesungguhnya?” pintaku
sembari merintih, aku tersungkur dan menumpahkan segala luapan emosi kedalam
tetesan air mata.
Mama terdiam sesaat menahan air
matanya, mungkin sudah tak sanggup sehingga akhirnya Ia pun merangkulku, Ia
menangis, menangis dan menangis.
“Nak, maafkan Mama. Selama ini
Mama dan yang lainnya tidak memberitahukan rahasia ini hanya karena tak ingin
kau ikut membenci Ayahmu seperti Pamanmu. Mama yakin, kau pasti telah membaca
isi diary itu, apapun yang kau baca, itulah alasan Ayah meninggalkan kita,
Nak.” Terang Mama dengan suara parau,
“Lalu sekarang Ayah dimana?
Mengapa Ia tak menemui kita, Ma?”
“Anita, mungkin memang sudah
waktunya kau mengetahui semuanya. Sesungguhnya Ayahmu telah menikah denga
wanita lain. Lihatlah bagaimana Pamanmu membenci Ayah, itu karena Ia masih
sangat murka terhadap perlakuan Ayah yang benar-benar sudah diluar kewajaran.
Ia menikah dengan seorang wanita kaya, anak dari pemilik perusahaan dimana Ayahmu
bekerja.”
“Jadi, Ayah rela mengorbankan
kita, demi harta dan jabatan itu?”
“Begitulah, Nak. Maka dari itu
Paman tak dapat memaafkannya,”
“Mama memaafkan Ayah, ‘kan?”
“Iya, Nak. Cinta Mama terhadap
Ayahmu tak dapat dikalahkan oleh rasa benci, bagaimanapun itu. Mama hanya
bersabar dan berharap suatu saat nanti Ia akan kembali bersama kita. Mama juga
berharap semoga kau tak pernah membenci Ayahmu, Nak.”
“Demi Allah, Ma. Sedikitpun tak
ada rasa benci untuk Ayah, hanya ada sedikit rasa kecewa. Hanya sedikit, Ma.”
“Mama mengerti, Nak. Wajar saja
jika begitu, berdo’alah semoga Ayah segera datang menemui kita,”
“Aamiin,” aku tersenyum,
Keesokan harinya, terdengar suara
ketukan dibalik pintu rumahku. Paman membuka pintu, dan ternyata seorang tukang
pos.
“Dari siapa?” Tanya Mama kepada
Paman,
“Sebentar, aku belum selesai
membaca,” jawabnya,
“WAHYU,” lanjutnya kemudian,
“Apa?” aku dan yang lainnya
terkaget, segera kuraih kertas yang kemudian diletakkan Paman di atas meja,
kubaca surat itu dengan suara lantang,
Assalamu’alaykum
Teruntuk
keluarga besarku di rumah, khususnya untuk istri dan anakku.
Maafkan aku,
14 tahun lamanya aku meninggalkan kalian, tak pernah kusampaikan kabar tentangku
kecuali kabar terakhir yang menyakitkan beberapa tahun yang lalu. Maafkan aku
tak menyampaikan alasanku menikahi wanita itu. Sesungguhnya, aku menikahinya
bukan karena cinta apalagi jika hanya sekedar mengejar sebuah jabatan. Rani,
pasti kau tahu, bukan diriku jika harus mengorbankan harga diri hanya untuk
sebuah jabatan. Aku menikahinya sebab Ia mempunyai penyakit ganas yang akan
segera merenggut nyawanya. Ayahnya, yang tidak lain adalah atasanku, memintaku
untuk menikahi anakanya disisa terakhir hidupnya. Aku tak mempunyai pilihan
yang lain, terpaksa harus kuturuti permintaan itu. Usia pernikahanku dengannya
hanya berjalan dua tahun, setelah itu Ia meninggal dunia. Setahun yang lalu,
aku berencana pulang menemui kalian semua, akan tetapi tiba-tiba aku ditugaskan
untuk menjalankan proyek diluar negeri. Lagi-lagi niat itu harus tertunda,
kerinduanku harus kutahan lagi dan lagi. Aku sungguh merindukan kalian semua.
Ayah mertua, Ibu mertua, iparku, istri yang tercinta, dan anakku semata wayang
yang sedikitpun tak pernah aku melihatnya.
Insya Allah
satu minggu yang akan datang, aku akan pulang menemui kalian. Dan berjanji tak
akan meninggalkan kalian lagi, pekerjaan yang telah kudapatkan telah kulepaskan
sekarang. Aku lelah bekerja dikota tanpa kalian, maka dari itu aku memilih
kalian. Aku akan membawa modal untuk membangun sebuah usaha kecil, agar aku tak
menganggur lagi seperti dulu.
Mungkin
begini saja yang dapat kusampaikan, aku harap kalian mengerti dan dapat
menerima aku kembali.
Terima kasih,
Wassalamu’alaykum
warahmatullahi wabarakatuh.
Suasana menjadi hening, kurasakan
suasana pilu bercampur bahagia menyelimuti ruangan ini. Benar-benar tak dapat
disangka-sangka, sosok seorang Ayah akan segera terlihat didepan mataku.
Mama, yang sedari tadi hanya
terdiam, akhirnya dapat menggores wajahnya dengan senyuman. Dan kuharap, kabar
ini bukanlah sebuah mimpi belaka.
***
Hari ini, Ayah datang untuk
menepati janjinya, kupersiapkan segalanya agar kedatangan Ayah menjadi hal yang
begitu berkesan. Untuk kali pertamanya aku akan bertemu dengan Ayah yang selama ini aku nantikan
kehadirannya disisiku.
Setelah beberapa jam menunggu,
terdengar suara mobil yang berhenti tepat didepan halaman rumahku. Jantungku
mulai berdetak kencang, kucoba mengintip dibalik jendela kamarku. Kulihat Mama,
Paman, Kakek juga Nenek menyambut seorang lelaki yang berbadan tegap, putih
untuk ukurang warna kulit lelaki, Ia memakai kemeja kotak-kotak berwarna
cokelat pekat, serta sepadan dengan celana yang Ia kenakan. Sekilas kulihat
wajahnya, Ia rupawan dan bersahaja. Ya Allah, itukah Ayahku?
“Anita?” sahut Mama dari luar
kamarku,
“Iya, Ma?” jawabku,
“Keluarlah sekarang, Ayahmu
mencarimu, Nak.”
Perlahan ku langkahkan kaki ku
dengan perasaan bahagia bercampur haru. Kutatap wajah lelaki itu, sungguh
rupawan. Tiba-tiba Ia memelukku, memelukku begitu erat.
“Nak, ini adalah Ayahmu yang
tidak tahu diri meninggalkanmu begitu
lama,” bisiknya
Aku memeluknya, kupeluk Ia dengan
erat, seolah tak ingin kulepaskan lagi.
Kurasakan pundakku basah, basah
karena air mata Ayah yang mengalir tak tertahankan.
“Ayah berjanji tidak akan pernah
meninggalkanmu lagi, Nak.” Lanjutnya,
“Iya, Ayah. Anita menyayangi
Ayah, jangan tinggalkan kami lagi.”
“Ayah berjanji kepadamu. Ayah
juga sangat menyayangi Anita.”
Disinilah awal kehidupanku yang
baru, semua berbeda dengan hadirnya sang Ayah. Kami hidup dengan bahagia, usaha
yang dibangun Ayah semakin melonjak sukses. Mama ikut membantu Ayah dalam
usahanya, sedangkan Paman juga telah menemukan tambatan hatinya dan pada
akhirnya mereka menikah. Baju yang Nenek cari pun akhirnya kami temukan.
Alhamdulillah, semua berakhir
dengan kebahagiaan.
makasih buat temanku yang bernama Risma Arida yang telah membantu saya menyelesaikan tugas praktek ini :)
Thanks sobat :D
makasih buat temanku yang bernama Risma Arida yang telah membantu saya menyelesaikan tugas praktek ini :)
Thanks sobat :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar